Postingan

Umat Muhammad dalam Gulungan Film Barat

Gambar
Kumandang adzan, pria berjenggot, wanita berjilbab, masjid, dan sekelompok lelaki yang menenteng senjata. Punya hobi menonton film? Terutama film-film Hollywood? Atau pernah menonton film-film dengan setting dan latar di sebuah negara Islam atau yang menampilkan seorang atau sekelompok muslim? Pemandangan seperti yang sudah saya sebutkan pada kalimat pertama dalam paragraf ini pastinya dapat dengan mudah kita temui saat kita menonton film-film tersebut. Ada mungkin dari kita yang merasa kesal karena kebanyakan film-film macam itu memang terkesan menyudutkan kaum muslimin –terutama bangsa Arab- , tapi ada juga dari kita yang beranggapan: “toh, hanya film”. Lalu, bagaimanakah maksud sutradara, produser, penulis skenario, dan para kru-nya membuat film-film yang menampilkan perwajahan Islam dalam kacamata mereka?

The Physician (2013): Melihat Islam dari Film Barat

Gambar
Sebenarnya jujur, saya males aja bikin tulisan tentang Ibnu Sina. Ini ada hubungannya karena saya juga gak punya minat untuk menelusuri sejarah dunia permedisan. Apalagi saya sebenarnya mahasiswa Ilmu Komunikasi. Tapi kalau dipikirpikir saya udah lama banget gak bikin tulisan. Entah bagaimana ceritanya, saya diperkenalkan dengan film produksi Jerman tahun 2013 berjudul  The Physician  atau dirilis di negara asalnya dengan judul  Der Medicus . Melihat di posternya ada aktor sesepuh Inggris, Ben Kingsley, yang sudah sering main di beberapa film-film terkenal, saya jadi tertarik juga menonton film ini. Apalagi setelah saya baca informasinya di Wikipedia dan beberapa situs-situs pengulas film bahwa aktor blasteran India-British inilah yang akan memerankan tokoh kedokteran Ibnu Sina. Yup, dianugerahi keturunan campuran, seniman bernama asli Khrishna Bhanji ini sudah sering memerankan karakter-karakter dalam berbagai etnis seperti sebagai Merlin/Ambrosinus, tokoh legen...

Mengais Ilmu dalam Lingkaran Ukhuwah

Gambar
Dari sejak saya duduk di bangku SMA kelas satu, saya sudah sering mengikuti semacam kegiatan yang dilaksanakan seminggu sekali, berkumpul di satu tempat, kadang di masjid, , duduk melingkar, kadang hanya sekitar 6-7 orang saja, dimulai dengan tilawah al-Qur’an, lalu bersama-sama mendengarkan materi-materi keislaman dan mendiskusikannya. Sampai sekarang saya masih sering mengikuti kegiatan tersebut, meskipun berbeda lokasi tempat saya menempuh pendidikan sekolah menengah (Bekasi) dan kuliah (Yogyakarta) serta pembimbingnya. Masyarakat awam mungkin akan menyebutnya pengajian, namun ada istilah khusus untuk kegiatan ini. Kita sering menyebutnya halaqoh atau liqo’ .

Lurus Rapatkan Shaf

Gambar
“Lurus rapatkan shaf. Karena rapihnya shaf adalah keutamaan dalam ibadah shalat.” Sering dengar apa yang dikatakan imam tepat sebelum memulai sholat? Jelas sering. Kalau jarang, berarti ketahuan jarang sholat atau jarang pergi ke masjid. Memang benar bahwa merapatkan shaf adalah keutamaan dalam melaksanakan ibadah sholat. Tapi apakah shaf kita sudah benar-benar rapat? Bukan hanya shaf saat sholat berjamaah lho, tapi juga rapatnya shaf kita dalam hidup dengan sesama bagian dari umat. Apakah sudah rapat?

Dada yang Dilapangkan, Cinta yang Perlu Dikekalkan

Gambar
Kawan, masih ingatkah saat kita saling menyusun niat untuk selalu berjuang di jalanNya. Entah mengapa seakan ada yang mengikat jiwa-jiwa kita, tersusun menjadi suatu ukhuwah. Dan tahukah engkau, kawan, bahwa ukhuwah lebih tinggi dari sekedar persahabatan? Ya, karena dalam ukhuwah-lah kita bersama saling mengajar dan membimbing. Maka bila salah satu dari kita salah, yang lain pun turut meluruskan. Hati-hati ini menyatu dalam satu kekuatan yang mendamaikan. Terasa begitu berharga ikatan ini hingga permata termahal pun dirasa takkan membuat ia renggang. Saat itulah Aku merasa, memang ikatan inilah yang diridhai Allah.

4 November 2016: Ujian Bagi Rakyat

Gambar
Akhir-akhir ini sedang heboh pembicaraan mengenai aksi besar-besaran yang akan terjadi pada tanggal 4 November 2016. Aksi tersebut berupa unjuk rasa bela Islam sebagai respon dari penghinaan yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, terhadap Surat Al Ma’idah ayat 51 dari kitab suci Al-Qur’an. Media-media pun heboh memberitakan informasi mengenai aksi ini dengan bahasa mereka masing-masing. Tak ketinggalan, media sosial macam Facebook dan Instagram pun dijadikan semacam lounge digital oleh mereka yang getol mendiskusikan aksi unjuk rasa diatas. Bahkan kerap ada saja adu bacot atau semacam debat kusir yang melibatkan masyarakat dari berbagai golongan, mulai dari yang melek banget sama perkembangan politik di Indonesia sampai bocah yang masih ngerjain PR pemberian gurunya.

Bisakah Media Mengendalikan Pikiran Kita?

Gambar
Bisakah pikiran kita dikendalikan? Mungkin orang-orang bakal berpikir bahwa kita gila bila kita percaya hal seperti itu. Ya, mengendalikan pikiran kadang hanya muncul pada film-film atau serial kartun di televisi. Kadang kita melihat bagaimana seorang tokoh jahat, contohlah seorang profesor yang berniat menguasai dunia, menciptakan semacam alat yang dapat membuat manusia mengerjakan apapun yang ia kehendaki. Alat itu bisa semacam pemancar sinyal, senyawa gas yang membaur udara, atau suntikan dengan cairan khusus. Saya sendiri pun sempat berpikir bahwa orang macam mana yang percaya hal beginian. Tapi ternyata pengendalian pikiran memang nyata. Bahkan sekarang pun sedang terjadi. Kok bisa?